Ironi Kehidupan
ketika kalian mendengarkan kata ironi, apa sih yang terlintas dalam pikiran kalian? well, mungkin sebagian besar bilang kaya suatu yang pelik dan menyedihkan ya. dan kalian gak salah juga karena gua sependapat. mungkin judulnya terkesan sedikit berat, ya emang berat sih ehe..
selama 23 tahun gua hidup, mungkin kalau umur pengalaman itu baru sekitar 5 tahunan ini gua mulai ngerti sedikit dari universe yang segede apaan tau ini. manusia pada dasarnya hanya melakukan apa yang dia ketahui yang menurut dia benar. dan sebagian besar sikap dan tindakan kita terinfluence dari apa yang sudah ada di alam bawah sadar kita. berbicara alam bawah sadar, yang secara masif emang berpengaruh banget dari seluruh aspek kehidupan kita. dan gak mau munafik, kalau gak semua orang terinfluence dengan nilai yang baik dan mulia, manusia mungkin terlalu abstrak untuk dijabarkan melalui sebuah kalimat, yup kita terninflunce dari apa yang sudah kita terima, dari apa yang membuat kita senang, dari apa yang membuat kita sedih, entah juga hasil represi dari emosi negatif yang gak mau kita ingat.
mungkin sebut aja gua adalah sebagai pengamat, pengamat yang tak luput dari kesealahan juga yah dan gak sempurna. seringkali, tindakan buruk manusia dilakukan merupakan cerminan dari keadaan dirinya yang sebenarnya. sakit menyakiti adalah suatu mekanisme yang mungkin udah gak asing dan tentu gua gak bilang seluruh hidup ini hanya cuma terkait sakit menyakiti.
kalo kalian mau lebih harafiahnya, manusia mungkin merupakan mahluk dangkal, yang masih mencari apa arti dalam hidupnya. seirngkali konflik, kata kasar yang terucap, emosi, pertengkaran adalah bentuk emosi yang secara gak sadar ada didalam alam bawah sadar, ya namanya aja gak sadar, kadang manusia gak sadar kalo kata dan perbuatannya menyakiti hati manusia lainnya. yang kemudian menimbulkan rasa kecewa dan sedih pada manusia lainnya, dan akan melakukan hal yang sama dengan manusia lainnya sesuai perlakuan yang sudah didapatkan. tapi beruntungnya kalo orang yang dikecewakan mengerti bahwa orang yang menyakiti itu ibarat orang itu memang penuh luka, jadi tak heran dia akan menyakiti orang lain dengan sadisnya atau bahkan lebih sadis dari lukanya.
sebagai manusia yang masih belajar, gua perlahan sadar dan mengamati pola, yang paling real adalah kehidupan sehari-hari. bahwa banyak hal yang menjadi rumit karena luka tersebut, orang tidak menyadari, dan akhirnya sakit menyakiti adalah hal yang nampak dalam kehidupan kesehariannya. karena gua mulai mendalami tentang kesehatan mental dan mindfulness, gua perlahan sadar. perlakuan yang menyakiti yang dikelaurkan oleh seseorang, sebenarnya menyakiti dirinya sendiri, itu merupakan representasi dari hasil yang sudah dialaminya dan keadaan bawah sadarnya yang penuh dengan luka.
lalu sekarang adalah refleksi bagi gua gimana gua menghadapi orang kaya gini? jujur dibilang cape, banget coi, tapi pahitnya kehidupan tidak sebaik itu. mau gak mau dijalanin, terus gimana, kalo berhenti mau ngapain juga, jalan aja meski ga ada yang tau kedepannya gimana, yang jelas next step karena lingkungan emg gak bisa diubah, secepatnya ambil tindakan aja, entah dirilu berubah terhadap keadaan atau lu pergi dari keadaan . kaya judul lagu, kita berjalan saja masih, terus berjalan, oke skip ehehe.
refleksi yang lainnya adalah stop rantai luka melukai. karena gua udah paham, dan balik lagi ya gua manusia juga penuh luka, gua sebisa mungkin bertindak baik, tidak terpancing emosi juga, gua tau cara bagaimana memperlakukan orang lain sebagaimana dia harus diperlakukan, gua harus bisa juga menghargai orang lain, ya karena itu balik lagi ke pengalaman gua sendiri, gua tau diperlalukan gak enak yang gak enak dan sebisa mungkin gua gak memperlakukan itu ke orang karena gua tau rasanya, ya biarlah belibet ehe.. stop rantai luka dan hiduplah dengan merawat luka diri sendiri, mungkin gak semudah ngetik blog ini ya.. langkah untuk merawat luka itu sebenarnya sadar dulu kalo kita sedang terluka, kita mau dan yakinlah kita bisa..
ya beginilah tulisan dari seorang manusia yang belum sempurna, yang masih dan akan sturggle entah sampai kapan. dikala pandemi kaya gini, ada baiknya jaga kewarasan sih, karena makin banyak juga yang gak waras. akhir dari blog ini mau gua tutup sama quote yang gua pernah baca ini:
"knowing yourself is the beginning of all wisdom-Aristotle"
Komentar
Posting Komentar