Tempat untuk pulang
Sebuah perjalanan yang sangat panjang dan membutuhkan usaha yang besar untuk mencapainya. ku kira tempat untuk pulang berbentuk fisik dengan atap diatasnya. yang bisa dibilang orang sebagai tempat berteduh dikala hujan dan terik. namun mungkin bisa dibilang setelah perjalanan yang hampir setengah jalan ini, aku sadar kalau tempat untuk pulang lebih berbentuk pada sesuatu yang abstrak atau mungkin bisa dibilang berbentuk seseorang. Ya sebuah dekapan yang mungkin bisa lebih hangat daripada berlindung dibawah atap rumah. Dan seperti yang kita tahu, tidak semua orang memiliki tempat untuk pulang, salah satunya saya. Selama setengah perjalanan ini berulang kali menyakinkan diri kalau saya bisa, kuat dan mampu melalui semua ini. Namun, ternayata saya salah. saya ternyata amat rapuh dan selama ini yang saya bangun dipikiran saya adalah sebuah ilusi untuk lari dari kenyataan kalau nyatanya memang saya lonely dan saya sangat fragile. memang mudah untuk menciptakan sebuah ilusi, namun...