Tempat untuk pulang

Sebuah perjalanan yang sangat panjang dan membutuhkan usaha yang besar untuk mencapainya. ku kira tempat untuk pulang berbentuk fisik dengan atap diatasnya. yang bisa dibilang orang sebagai tempat berteduh dikala hujan dan terik. namun mungkin bisa dibilang setelah perjalanan yang hampir setengah jalan ini, aku sadar kalau tempat untuk pulang lebih berbentuk pada sesuatu yang abstrak atau mungkin bisa dibilang berbentuk seseorang. 

Ya sebuah dekapan yang mungkin bisa lebih hangat daripada berlindung dibawah atap rumah. Dan seperti yang kita tahu, tidak semua orang memiliki tempat untuk pulang, salah satunya saya. Selama setengah perjalanan ini berulang kali menyakinkan diri kalau saya bisa, kuat dan mampu melalui semua ini. 

Namun, ternayata saya salah. saya ternyata amat rapuh dan selama ini yang saya bangun dipikiran saya adalah sebuah ilusi untuk lari dari kenyataan kalau nyatanya memang saya lonely dan saya sangat fragile. memang mudah untuk menciptakan sebuah ilusi, namun ketika trigger datang, ilusi itu pun akan mempertanyakan kebenarannya pada kita : are you sure that youre okay? 

Hari itu diparkiran menyadarakan saya bahwa selama ini saya tidak okay, setelah trigger itu muncul melalui pertanyaan sederhana ditempani dengan cuaca mendung serta angin kencang yang sangat mendukung. kala itu saya sadar dan sekarang ketika saya mengakui hal itu, saya menjadi bisa dibilang lebih fragile nnamun kata trigger itu mulai sedikit berkurang mengusik kedamaian batin saya. ternyata benar ya ketika rasa renatan dihadapi, hal itu akan menjadi hal yang biasa dikemudian hari. 

Pada akhirnyaa, mampukah saya menemukan sesuatu yang dapat disebut tempat untuk pulang? atau saya masih harus berjalan bermil-mil jauhnya sendirian untuk mencapai rumah yang saya belum tahu bagaimana keadannya? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan kenangannya

Hidup itu memilih

Untaian kata hati