The art of life pt. 1
After 2 years ya guys. Akhirnya gue balik menuliskan keluh kesah di blog gue. Mungkin sudah berlaba-laba kali ni blog gua haha lol. Rutinitas gua beberapa tahun terakhir, membuat gua terlalu larut, kadang sampe bosen melakukan hal yang itu-itu aja.
Well, tahun ini gue mengalami banyak hal yang bisa dibilang jadi kaya roller coaster dalam tahun 2018 ke 2019. Gue banyak belajar tentang sesuatu, yang disini adalah yang kali ini gue akan bahas yaitu: The Art of letting go, the art of mindfulness.
Cerita hidup gua, terlalu banyak warna serra benang yang seperti berbelit menjadi satu. Tapi salah satunya adalah ya letting go ini.
Gue bisa dibilang jatuh dilubang yang sama as before.
Gue bisa dibilang jatuh dilubang yang sama as before.
Tapi yang patut gue syukuri adalah gue masih bisa sadar, gue masi bisa berpikir jernih kemudiannya. Gua akui kadang w pernah berpikir butek, berpikir pendek atau bahkan merendahkan diri gue demi hal yang gue pengen, demi hal yang pengen gua jaga, demi hal yang gua sayang.
Berbekal self healing tweet twitter, gua aktif main twitter lagi, yang mana juga w sudah sangat jarang loh membukanya. Gue tersadar akan satu hal bahwa gue terlalu larut dalam keadaan. Gue sebenrnya tau teorinya, gue pernah mengalaminya, tapi gue lupa disaat keadaan seperitnya baik, w melupakan teori yang sudah w tau dan sudah banyak diajakrkan oleh orang tersebut. Sebut saja rexy. Hahaha
Sorry jika terdengar privasi, tapi salah saru Cara gue berekspresi ialah melalui tulisan, disaat w gk mungkin banget ya ngomong langsung, atau ya emg orangnya udah tidak bisa diajak berkomunikasi lagi haha.
Ingetlah buat kalian, yang berada di posisi jika sayang akan terlalu. Yang awalnya sudah mkir bisa antisipasi jika kenyataan lebih buruk. Ingat satu hal: kalian lebih berharga daripada rasa sayang kalian ke orang tersebut. Dengan kata lain, gua tau diposisi lu itu punya hati yang sincere pure ke orang yang bnr2 lu sayang entah temen, pasangan atau keluarga. Lu bahkan mati2an coba pertahanin mreka, krena selama ini Lu nyaman dan bahagia bersama mereka sehingga lu lupa bahwa sebelumnya lu juga selalu fine tanpa mereka, lu mulai berharap tinggi apalagi jika orangnya ya cocok dengan keinginan hati, hayo bener atau bener?
Tapi untuk segala kenaifan gua, gua bener2 sempet hampir mau stress, w dapet cerita dari orang lain, bahkan dia sempet mau bunuh diri, beruntung, gua gk ada pikiran seperti itu.
Gua sadar hidup itu gk seperti garis lurus, hita putih. Terlalu banyak variable yang mempengaruhinya, banyak garis dan banyak warna. Kita dianugerahkan memang untuk bisa mengubah orang Dan diri kita. Tapu terlalu banyak org yg berusaha mengubah orang lain, tanpa sadar bahwa yg harusnya berubah adalah diri sendiri, dan ingat jangan pernah sekali-sekali berubah demi orang atau sesuatu, perubahan atas dasar dan kemauan diri sendiri.
Gue belajar bahwa, sesuatu mungkin tidak harus mendapatkan penjelasan, mungkin akan lebih baik, klo tanpa penjelasan, biarkan semua let it be.
Sempet menyalahkan diri atas yang sudah terjadi, tapi w sadar terlebih menyalahkan diri, mungkin ini sudah seperti yang sudah tertulis yang harus gua laluin, jalan yang harus w emban untuk menjadi sesorang yang better.
Gua belajar, perihal melepaskan, karena terlalu banyak menggengam, memperberat langkah kita, belajar mensyukuri dan menghargai orang yang stay disaat kita terpuruk, dan let it go orang yang pergi disaat kita berada di titik terlemah. W belajar untuk menghargai orang yang nantinya bakal stay walau tau kalo kedepannta mungkin tidak mudah, belajar menghargai orang yang nantinya menerima flaws gua, dan mau bersama sama belajar memahami serta tidak menyerah dikala badai datang.
Ini berlaku baik utk pasangan, teman sahabat ataupun keluarga. Hidup ini perihal belajar sampai akhir hayat, mungkin tulisan ini terdengar sangat klise dan puitis, tapi banyaklah yang melatarbelakangi, dan balik lagi ini adalah curhatan hati dari seorang insani.
Buat kalian para pembaca, jangan salahkan diri kalian untuk terlalu tulus, krena itu bukan salah kalian. Kalian mempertahankan sifat baik sembari mengupgrade sifat buruk dari pengalaman sebelumnya. Jangan salahkan jika kalian terlau mudah menangis utnuk hal hal yang mungkin bagi orang lain gak ada artinya, jangan merendahkan diri kalian. Jika seseoarang ingin tinggal, mereka akan tinggal. Jika seseorang tidak ingin tinggal, biarkan mereka pergi. Memang hidup perihal melepaskan. Ketika kalian mampu melepaskan, memaafkan mungkin efeknya akan sangat lama terasa ato butuh proses, tak apa, nikmatilah prosesnya dan always upgrade diri.
Catatan tambahan:
Mungkin kalian yang anak bioskop tau skrg ada film twivortiare. Coba ditonton sbg bahan referensi, bahwa hidup itu saling, bukan tentang siapa yg salah dan yang benar. Ketika kalian menemukan orang yg mau Saling tersebut, jangan lepaskan hargai nikmati syukuri :)
Mungkin kalian yang anak bioskop tau skrg ada film twivortiare. Coba ditonton sbg bahan referensi, bahwa hidup itu saling, bukan tentang siapa yg salah dan yang benar. Ketika kalian menemukan orang yg mau Saling tersebut, jangan lepaskan hargai nikmati syukuri :)
See u on another blog, muach :*
Komentar
Posting Komentar