SEWINDU

Tergolak aku saat jam dinding seolah berdetak kencang menunjukkan sudah pukul 5 pagi. Surya belum siap menyinari setiap celah jendela kamarku tapi dia sudah ada di hadapanku. Ya tepat disampingku, tertidur terlelap entah sudah sampai tingkat mana mimpinya.
Ya dia lah sang surya bagi hidupku. Siap untuk menyinari aku saat aku sedang mendung. Sinar senyumnya seolah memberikan gelombang positif padaku. Aku sangat mendambanya.
Meski dia disampingku, ada sesuatu yang mencegah aku tuk mendekatinya, untuk membelainya. Sehelai rambutnya pun tak bisa ku sentuh, seolah raga ini tak mampu menyambut jiwanya. Jiwa yang masih menapaki dunia yang sudah kutinggalkan semenjak Sewindu yang lalu.
Melihatnya sudah cukup bagiku. Menyentuhnya adalah suatu kemustahilan bagiku. Kebahagiannya adalah segalanya bagiku.
Saat dulu kami menapaki dunia ini berdua. Ku tak sadar betapa berharganya momen dimana kami saling tertawa canda, senyuman selamat paginya yamg selama ini mengawali hariku. Baru kusadari bahwa itu adalah momen yang terindah saat ku melihat linangan airmatanya jatuh ke atas peti matiku. Ku melihatnya dari dunia yang lain, hatiku pilu ingin mengusap air matanya. Tapi apa daya, menyentuhnya lagi pun aku tak sanggup.
Hari hari ku setelah itu adalah hari yang diambang angin. Jiwaku mengalir bersama angin yang membawaku kepada suatu akhir, bisiknya. Entahlah saat ku merindunya tiba tiba aku berada disampingnya, lagi.
Setelah sewindu berlalu, saat jiwa ini semakin hancur terbawa angin, aku kembali menemuinya. Kulihat senyumnya sudah kembali lagi menghiasi pagi ini. Ya aku amat bahagia melihatnya. Tak perlu menunggu 100tahun, hanya sewindu saja aku bisa melihat senyum indahnya.
Di sini aku masih menanti reinkarnasiku kembali, aku berharap dapat bersanding dengan dia dikehidupan selanjutnya. Semoga beratus ratusntahun berlalu, semoga senyumnya abadi bersama reinkarnasiku dan reinkarnasinya.
Ribuan musim berlalu, ku tetap berdiri disini, menanti dirimu, ya hanya kamu sesorang yang tak bisa kusentuh, seseorang yang akan kurindukan ratusan tahun kedepan.
Dari seseorang yang tak bisa menyentuh jiwamu,
Semoga engkau bahagia menjalani hidup barumu disana,
Kuharap kelak kita bisa bertemu kembali,
Dan senyummu dapat menghilangkan mendung ratusan tahunku.
Salam sewindu,
9.7.17

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hujan dan kenangannya

Hidup itu memilih

Untaian kata hati